Sejarah Los Angeles Aztecs, Pernah Diperkuat Dua Dewa Sepak Bola Dunia

Sejarah Los Angeles Aztecs, Pernah Diperkuat Dua Dewa Sepak Bola Dunia

Sejarah Los Angeles Aztecs, Pernah Diperkuat Dua Dewa Sepak Bola Dunia – The Aztec adalah klub sepakbola asal Los Angeles dengan sejarah mentereng. Mereka kini belum eksis, tapi sedang taraf inkubasi dalam kolam penetasan untuk bisa bangkit kembali. Klub dari era 1970-an ini terlalu hebat untuk dimatikan, sehingga upaya membangkitkannya kembali ibarat tugas kemanusiaan yang harus berhasl.

Dalam sejarahnya klub ini pernah memenangkan kejuaraan Liga Sepak Bola Amerika Utara pada musim ekspansi mereka di tahun 1974. Pada berbagai kesempatan, The Aztec juga memiliki ikatan dengan semua orang mulai dari George Best hingga Elton John hingga jenius lini tengah Belanda Johan Cruyff. Klub ini juga termasuk yang senang jatuh bangun, berpindah dari satu stadion yang tidak pas ke stadion lain setiap tahun, atau bergeser kepemilikan hingga berulang kali. Setiap rezim baru dengan cepat membuang superstar Eropa favorit pendahulunya.

Saat Best tiba di L.A Aztec dia masih cukup bugar untuk mendominasi liga Amerika, kemunculannya seperti Zlatan di L.A Galaxy. Dia bisa dibilang salah satu nama terbesar yang didatangkan oleh tim North America Soccer League, selain superstar Brasil Pele, yang datang ke liga setahun sebelumnya membela New York Cosmos pada tahun 1975. Kedua superstar berhadapan di LA pada 11 April 1976 ketika Pele Cosmos mengalahkan Best’s Aztec 1-0 di hadapan 29.232 pandang mata stadion Coliseum.

Seperti Pele, Best datang ke NASL menjelang masa pensiunnya dan bergabung dengan sebuah tim yang jadi sorotan media besar. Tidak seperti Pele, kehadiran Best di Los Angeles tidak memicu gelombang sepak bola mania. Sementara Pele di Cosmos menyedot 34.000 fans yang merupakan anggota judi bola di situs https://multibet88.online dalam per pertandingan di Giants Stadium pada tahun 1977 (dengan jumlah penonton lebih dari 70.000), Aztec gagal untuk membawa setidaknya 10.000 fans rata-rata selama dua musim penuh Best bersama tim pada tahun 1976 dan 1977.

Pada tahun 1976, Best mencetak 15 gol dalam 23 pertandingan dan ada di posisi keenam daftar pencetak gol terbanyak di NASL. Pada tahun 1977, Best lebih suka memberikan assist untuk striker Trinidad, Steve David. David sendiri memimpin perolehan gol NASL dengan 26 gol. Tapi dengan demikian Best jadi top assist dengan rekor 18 assist. Dengan 15 gol dan 18 assist, apa yang bisa salah dari seorang Best?

Best akhirnya merampungkan kontraknya di L.A. selama musim ketiganya di 1978, alkoholisme dan masalah gaya hidup membuat pelatihnya frustrasi. Dia diskors tanpa bayaran di awal musim 1978 karena praktik tidak pro. Aztec lalu memberikan bintang 32 tahun mereka itu ke Fort Lauderdale tim NASL lain pada Juni 1978. 32 tahun bagi pesepakbola bisa dibilang masih usia emas. Sayang sekali Best.

Lalu datang Johan Cruyff pada tahun 1979, Cruyff datang sepaket bersama dengan pelatihnya yang terkenal dari Ajax dan Tim Nasional Belanda, Rinus Michels. Cruyff langsung bikin NASL bertekuk lutut, dia memenangkan penghargaan Pemain Paling Berharga NASL pada tahun 1979.

Sayang, pada era Cruyff itulah Aztec berubah kepemilikan. Pemilik baru segera menjual Cruyff ke Washington Diplomat pada awal 1980. Aztec tetap bertahan sampai satu musim terakhir, mencapai perempat final NASL pada 1980 dengan andalkan 28 gol dari striker asal Brasil Luis Fernando. Pada tahun 1981, yang jadi musim terakhir Aztec, penonton menurun karena pemiliknya tidak peduli lagi, tim pun dibubarkan.

Dari Landon Donovan Hingga Zlatan, Pahlawan LA Galaxy Yang Mendunia

Dari Landon Donovan Hingga Zlatan, Pahlawan LA Galaxy Yang Mendunia – Saat Sepak Bola di Amerika Serikat masih berada dalam daftar puncak dicibiri dunia, termasuk diremehkan oleh orang Amerika Serikat sendiri, justru beberapa pesepakbola tangguh lahir dari pergumulan sepak bola lokal. Bakat-bakat sepak bola di Amerika Serikat awalnya memang berasal bukan sekolah sepak bola, melainkan dari Kampus, pelatihan serta kompetisi kampus, entah kampus tingkat SMA atau Universitas di mana liga yang dijalankan sangat bagus, sebagus liga sekolah di Korea Selatan dan Jepang. Salah satu nama yang mekar di sepak bola amatir liga sekolah, adalah Landon Donovan. Dia menjadi nama penting di Amerika Serikat, bakat sepak bola nya alami. Dia tidak seperti Frenki Hejduk, Eric Wynalda, Claudio Reyna, Alexi Lalas, atau Brian Mc Bride yang mencapai timnas dengan kerja keras dari amatir ke professional. Donovan langsung memasuki sepakbola professional dengan bergabung di tim muda Bayer Leverkusen. Di Jerman dia melatih kemampuan sepak bola nya, bermain di Leverkusen II, mencetak gol demi gol di posisi sayap, hingga akhirnya dia bisa menunjukkan bahwa dirinya layak untuk bermain di tim utama. Namun, sayang di tim utama Leverkusen dia tidak dipercaya, serta lebih bermain ke tengah, jauh dari gawang. Tidak merasa puas dengan kondisinya, dia lalu ingin dipinjamkan. Leverkusen lalu meminjamkannya ke klub Negara sendiri, San Jose Eartquakes, di MLS. Di klub tersebut, Donovan terlalu gigantis, 60 game, menceploskan 32 gol, plus 29 assist dalam dua setengah musim pinjaman. Sebelum akhirnya ke LA Galaxy, bermain 315 game, memenaangkan 4 gelar liga, mencetak 137 gol dan 104 assist. Total kontribusi gol nya di MLS dari 375 game 301 gol dengan 6 gelar liga. Sangat mengerikan. Kemudian datanglah pahlawan besar lain di LA Galaxy. Zlatan Ibrahimovic. Sang satu-satunya Zlatan di dunia yang berhasil mengharumkan nama Zlatan, atau membuat pemakai nama Zlatan merasa bangga. Walau datang di usia yang tidak lagi muda. Ibra tetaplah Ibra, sosok yang memenangkan gelar piala apapun dimana dia berada. Sehingga setiap pertandingan Ibrahimovic, banyak penjudi taruhan bola yang memasang taruhan pada tim Ibra melalui situs http://104.145.231.244 dan rata-rata para penjudi taruhan bola online ini meraih banyak keuntung dari pertandingan Ibrahimovic sang jagoan mereka. Tapi hal itulah yang gagal dia praktikan di LA Galaxy. Walau demikian Ibra tidak datang untuk piknik atau menghabiskan hari tua di liga yang lebih lembut untuk dirinya. Saat dia datang ke bandara Los Angeles, beberapa fans menampilkan papan bertulis, Selamat datang Zlatan. Atau Welcome Zlatan. Tapi Ibra malah menyebut, “Your Welcome LA”, untuk menegaskan bahwa LA yang harus berterimakasih terhadap kedatangan dewa sepak bola asal Swedia tersebut. Zlatan, Pahlawan LA Galaxy Yang MenduniaDalam pengembaraannya di LA Galaxy, Ibra dikenal sebagai sosok yang keras terhadap rekan-rekan timnya. Saat dia cetak banyak gol lalu kebobolan lebih banyak lagi, dia lumat semua pemain di ruang ganti. “Tidak bisa kalian macam semacam ini, sampai bobol tiga gol, ini bukan permainan, sama sekali bukan. Mau main di MLS, atau EPL, di manapun, jangan main semacam ini. Main tim itu demi kemenangan, dari sana tercipta gol bukan berikan gol untuk lawan, jadi apa yang kalian perlihatkan sama sekali tidak bagus.” Hal iini menunjukkan bahwa Ibra tidak ingin MLS jadi liga pensiunan untuk para pemain baik lokal maupun pemain internasional. Bagaimanapun, besaran gaji di MLS jauh lebih tinggi dibandingkan liga Eropa umumnya. Zlatan sendiri bermain maksimal di usia tuanya. Mencetak 53 gol plus 15 assist di 58 penampilan.

Jauh Sebelum Serie A Italia Terbentuk, Liga Sepak Bola di Los Angeles Sudah Terlahir

Jauh Sebelum Serie A Italia Terbentuk, Liga Sepak Bola di Los Angeles Sudah Terlahir

Jauh Sebelum Serie A Italia Terbentuk, Liga Sepak Bola di Los Angeles Sudah Lahir – Sungguh menakjubkan, di kalangan orang Amerika sendiri, bahkan fans sepak bolanya masih salah kaprah menganggap bahwa sepakbola di USA baru ada sejak berdirinya MLS. Inilah cermin ketidakpopuleran sepak bola di negeri Paman Sam.

Padahal sepak bola di benua Amerika, setua umurnya dengan yang ada di beberapa bagian Eropa. Bahkan lebih tua dari Italia. di Sepak bola lahir di tanah imigran itu pada pertengahan 1800-an, tepatnya pada 1850. Di Los Angeles sendiri sepak bola diperkenalkan awal 1900-an, liga nya terbentuk lebih tua dari perkenalan sepak bola di Kota Roma Italia atau di Spanyol sendiri, khususnya pada tahun 1902, ketika South California Football League didirikan.

Tahun berikutnya pada 1903 liga lain didirikan di South California League (yang nantinya akan diganti namanya menjadi Greater Los Angeles Soccer League), dan akan menjadi bagian dari kancah perhelatan sepakbola amatir selama bertahun-tahun.

Diawal abad 20, klub-klub sepak bola amatir di Amerika dipenuhi para Imigran Skotlandia, kebanyakan dari mereka bekerja di pabrik dan usaha kontruksi. Mengapa para scotish ini mendominasi sepak bola di awal berjalannya? Karena mereka termasuk masyarakat pertama yang memainkan sepak bola di tanah Inggris, dan mereka beremigrasi ke seluruh dunia.

Para Juara di awal berjalannya liga amatir ini adalah Los Angeles Athletic Club, Guernsey SC, dan Los Angeles United. Ada juga perebutan Piala, yang dinamakan Senior Challenge Cup yang dimulai oleh Asosiasi Negara Bagian Los Angeles, dimana pemenangnya adalah Los Angeles Scots yang menang pada tahun 1941, dan mereka menang di tahun berikutnya pada tahun 1942.

Sepak bola masih terlihat ekslusif pada saat itu, dimainkan untuk jadi penunjuk identitas suatu kaum. Hal ini wajar seperti wajah sepak bola di tempat lainnya di Amerika Serikat. Suatu klub tidak pernah berisikan etnis beragam, termasuk di California di mana tiap masing-masing klub didominasi oleh tim berbasis etnis, di mana kelompok imigran dan keturunan generasi kedua dan ketiga bermain untuk tim kelompok “gue”. Imigran Skotlandia, Indian Hispanik, Irlandia, Inggris, Jerman, Polandia, Yahudi, Belanda, mendirikan tim amatir mereka sendiri, lalu bertanding atas nama keunggulan etnis.

Pada saat yang sama, California Selatan lebih beragam di bandingkan yang di utara. Pada awal tahun 1900-an, banyak “orang luar” etnis yang diterima dalam tim etnis, misalkan keturunan Inggris ikut bergabung ke keturunan Irlandia. California selatan membuka sekat keragaman dibandingkan klub-klub di negara bagian lain Amerika Serikat. Namun secara keseluruhan, pemain cenderung bermain untuk tim di sepanjang garis etnis hingga akhirnya era profesional dimulai.

Sebelum Serie A Italia Terbentuk, Liga Sepak Bola di Los Angeles Sudah Terlahir

Namun, klub-klub professional di kota para malaikat ini berdiri di pertengahan 1900-an. Yang paling terkenal mungkin adalah Los Angeles Kickers yang muncul di era baby boomers 1951, lalu disusul Los Angeles Maccabi yang berisikan pemain dari komunitas Yahudi. Keduanya memainkan pertandingan tarkam amatir, jauh sebelum liga NASL terbentuk pada 1967. Keduanya juga menjadi salah satu pembawa standar sepak bola modern di LA ketika MLS juga belum muncul.

Berikutnya lahir menemani kiprah kota Los Angeles di kancah liga nasional, adalah Los Angeles Wolves di awal liga berjalan pada 1967, disusul oleh L.A Aztec yang didanai keturunan Indian Hispanik, California Surf, dan berakhir pada klub L.A Chivas. Kemudian di era MLS, lahirlah LA Galaxy. Klub terkuat California di abad 21.

 

Los Angeles Kickers, Klub Sepak Bola L.A. Pertama Yang Ukir Prestasi

Los Angeles Kickers, Klub Sepak Bola L.A. Pertama Yang Ukir Prestasi

Los Angeles Kickers, Klub Sepak Bola L.A. Pertama Yang Ukir Prestasi – Dunia olahraga di Los Angeles sudah lama dikenal sebagai dunia yang menderetkan gelar demi gelar, adanya tim-tim seperti Lakers, Dodgers dan dalam beberapa tahun terakhir, Kings, semuanya memenangkan kejuaraan yang mereka ikuti. Hal yang sama juga terjadi pada dunia sepak bola di kota ini, walau itu terjadi di masa lalu, tapi sama sekali tidak mengurangi bahwa kota ini adalah kota dengan olahragawan ambisius.

Pada 1950-an, pada saat tim olahraga sedang tumbuh-tumbuhnya paska perang dunia kedua di mana para mantan prajurit yang sehat ingin berkarir jadi peolahraga, terdapat banyak liga regional, dan banyak juga klub baru, mulai dari kecil mengejar kejayaan. Di sepak bola, Salah satu pemersatu tim sepak bola yang kelak mereka semua bernaung dalam suatu liga, adalah kompetisi Piala AS Terbuka, turnamen sistem gugur nasional dan merupakan kompetisi sepak bola terlama di Amerika Serikat.

Saat ini, ambisi untuk kompetisi yang panjang juga sedang dirintis. MLS sebagai liga utama dimulai lagi sejak dua dekade lalu, sebelum MLS berkembang, Los Angeles ingin tancap gas. Mereka meraihh gelar pertama sepuluh tahun setelah MLS dicanangkan, yakni Piala AS Terbuka di mana LA Galaxy, pada tahun 2005 memenangkannya. Tetapi sejarah tim LA di turnamen Piala AS Terbuka yang meraih banyak, jauh lebih jauh ke belakang. Merekalah satu tim terkenal dari era pra-profesional ini mereka adalah Los Angeles Kickers.

The Kickers dibentuk oleh enam imigran Jerman paska perang dunia, pada tahun 1951. Awalnya sekedar tim lokal yang main demi fitnes, co-founder Albert Ebert mengubah klub itu dari sekedar fitnes jadi serius, setelah dia menscouting pemain-pemain top masuk kek klub barunya. Maka tidak mengejutkan, mereka benar-benar lepas landas setelahnya. Memenangkan Piala Negara pada tahun 1956, dan kemudian jadi juara tujuh kali berturut antara tahun 1958 dan 1965.

Tak ayal kickers mungkin menjadi pembicaraan di kota LA, bahkan mereka bukan satu-satunya tim yang memonopoli panggung LA di Piala AS Terbuka selama era kejayaan. Akhir lima puluhan hingga awal enam puluhan adalah masa dominasi Piala AS Terbuka oleh barisan tim asal Los Angeles. Antara 1958 dan 1964, enam final Piala Terbuka menampilkan derby tim dari LA. The Kickers menang dua kali, pada tahun 1958 dan 1964, sedangkan LA Scots menjadi runner-up pada tahun 1961, San Pedro McIlvane Canvasbacks menang pada tahun 1959, dan Los Angeles Armenia masuk final pada tahun 1963.

Klub Sepak Bola L.A. Pertama Yang Ukir Prestasi

Tetap saja, Kickers terus jadi pembeda, bahkan di antara pesaing lokal, karena kemenangan di USOC pada tahun 1958 adalah yang pertama dalam sejarah, yang dimenangkan oleh tim pantai barat, artinya LA Kickers membawa kebanggaan pada San Fransisco dan Seattle. Sampai akhirnya perusahaan homebet88.online asal Swiss membiayai tur dunia Kickers pada tahun 1963, di mana mereka bermain melawan tim di Australia dan Selandia Baru, melawan tim asal Iran, dan bahkan melawan tim asal Bundesliga Jerman.

Yang paling mengesankan? The Kickers di musim 1964 menang semua piala yang tersedia pada kompetisi amatir, sebutannya quardalupe, pertama dalam sejarah sepak bola Amerika. Mereka memenangkan gelar GLASL (liga lokal antar kota LA), Piala Douglas (Kejuaraan California selatan), Piala Negara Bagian Cal, dan Piala AS Terbuka.Tidak ada lagi tim seperti mereka di L.A.

Informasi Mengenai Los Angeles FC dan Beberapa Rating Pemainnya

Informasi Mengenai Los Angeles FC dan Beberapa Rating Pemainnya

Los Angeles FC atau sering disebut LA FC adalah salah satu dari ketiga nama klub sepak bola unggulan dunia yang berada di wilayah Amerika Serikat. Khusunya bagi Anda penggemar sepak bola dunia tentunya sudah banyak mengetahui tentang Los Angeles FC ini bukan? Selain popular di negaranya, LA FC ini juga sudah banyak mempunyai penggemar di kancah dunia internasional.

Klub sepak bola Amerika yang tergabung dalam liga Major Leaguage Soccer ini sudah berdiri pada tahun 2014 ini termasuk pesat dalam perkembangannya. Karena dalam waktu kurang lebih lima tahun sampai saat ini sudah banyak mencetak prestasi. Terutama saat ini saat jabatan manajer klub dipegang oleh Bob Bradley. Berikut adalah nama-nama para pemain beserta ratingnya masing-masing yang mana diperoleh dari ketangkasan dan keahliannya pada saat bermain atau pertandingan
1. Miller, Tyler berusia 26 tahun dengan rating 82
2. Sisniega, Pablo berusia 24 tahun dengan jumlah rating 77
3. Harvey, Jordan berusia 35 tahun dengan rating mencapai 80
4. El Munir, Mohammed dengan usia 27 tahun dengan rating 78
5. Silva, Danilo yang berusia 35 dengan rating yang sudah mencapai 83
6. Zimerman, Walker dengan usia 26 tahun dan pencapaian rating sebesar 83
7. Segura, Eddie dengan usia 22 tahun dengan pencapaian rating sebesar 78
8. Beitashour, Sthepen dengan usia 32 tahun dan pencapaian rating sebesar 82
9. Atuesta, Eduard dengan usia 22 tahun dan pencapaian rating sebesar 82
10. Kaye, Mark-Anthonie dengan usia 24 dan pencapaian rating 80

Informasi Mengenai Los Angeles FC

Beberapa nama pemain dan rating yang telah disebutkan diatas adalah hanya sebagian saja. Masih banyak terdapat nama pemain lainnya, dengan perolehan rating yang beragam juga. Hal ini bisa menjadi tolok ukur tersendiri berdasarkan ketangkasan, keahlian dan keterampilannya saat bermain atau bertanding. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa pemain degan rating baik akan sering terpilih dalam suatu lertandingan atau permainan, terutama pertandingan yang notabene sudah cukup bergengsi.

Carlos Vela, Megabintang Andalan Los Angeles FC

Carlos Vela, Megabintang Andalan Los Angeles FC

Carlos Vela, Megabintang Andalan Los Angeles FC – Satu lagi bintang yang bermain di MLS, jauh sebelum usia tua menyergapnya. Dialah Carlos Vela. Datang ke Amerika di usia emas 27 tahun. Artinya? Dia bahkan masih terlalu bagus untuk klub-klub regular penantang Champion seperti Ajax, Celtic, atau Porto. Dan akan menjadi salah satu bintang di klub seperti AS Roma, Tottenham, dan Dortmund, serta jadi bintang yang menantang untuk Mbappe, Messi, dan Ronaldo. Tapi ke MLS dia pergi. Tidak sekedar ke MLS, tapi juga ke klub yang belum ada tradisi juara, Los Angeles FC. Saya sendiri masih terlalu takjub, kenapa Vela ke MLS? Di saat dia bisa jadi bintang besar di Eropa.

Alasan dia pindah kadang diselorohkan, karena kota LA berbatasan dengan tanah kelahirannya Mexico. Apapun alasannya, Vela kemudian menjelma menjadi mega binang di LA FC. Tidak seperti LA Galaxy, LA FC minim bintang kelas Eropa. Hanya Bradley Wright Phillips, adik dari Shaun Wright Phillips, serta keponakan Ian Wright, yang kita kenal. Juga ada Keneth Veermer, kiper Belanda yang familiar karena pernah bermain di Ajax Amsterdam. Sisanya nama-nama yang mengernyitkan dahi bagi fans sepak bola di Indonesia.

Seperti yang diperkirakan, Carlos Vela menjadi Carlos Dewa, menjadi dewa gol seperti yang dia tunjukkan sebelumnya di La Liga bersama Real Sociedad. Musim pertama dia ceploskan 15 gol. Musim keduanya pada 2019 lalu, sangat menganggumkan mencetak 38 gol di semua kompetisi pada 36 game. Vela memang mencapai musim terbaik dalam karir yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 2019 di MLS, dengan memecahkan rekor mencetak gol per musim liga, gol gabungan + assist dalam dua musim, di LAFC kini sudah mencapai 53 gol 23 assist.

Dia pun didapuk menjadi kapten LAFC dan memimpin kawan-kawannya mendapatkan trofi pertama untuk LAFC, memenangkan pertandingan playoff pertama LAFC lalu memenangkan gelar pemain terbaik MVP, MLS musim 2019.

Mungkinkah dia menjadi MLS MVP lagi musim ini? Itu mungkin, tentu saja, meskipun juga patut dicatat bahwa tidak ada pemain yang pernah memenangkan MLS MVPs back-to-back, dan hanya satu pemain, Preki, yang memenangkan MVP lebih dari sekali (penghargaan kedua datang jauh pada tahun 2003). Tapi sekali lagi, itu mungkin.

Liga MLS belum di gelar, tapi bayang-bayang teror Vela sudah bisa dirasakan oleh tim lainnya. Vela masih mampu mengejar gol lebih banyak lagi. Vela tengah lapar, fokus dan dalam bentuk terbaik dalam karirnya pada tahun ini, jika tidak pada tahun ini, maka tidak akan ada tahun berikutnya untuk Vela, karena regresi usianya yang sudah kepala tiga.

Walau demikian, secara realistis, ada hitungan lain, semacam proyeksi apakah Vela masih sebagus musim sebelumnya dengan dukungan kawan-kawan main yang juga mengalami regresi usia? Walau begitu masih ada keyakinan, seandainya tidak cetak 40 gol yang artinya memecah rekor tahun sebelumnya, maka akan slip mencetak lebih dari 20 gol dan kurang dari 30 gol? Jika bukan gol, maka assisnya pun sangat berbahaya kepada rekannya Diego Rossi yang telah cetak 28 gol untuk LAFC.

Itupun bukan jaminan untuk Vela karena Rossi yang masih muda, usia masih 21 tahun dilirik oleh klub-klub besar Eropa. Jadi Vela ada kemungkinan kehilangan rekan yang bagus. Walau begitu, Vela tetap akan menjadi icon Los sepak bola Angeles hingga dia putuskan untuk pensiun. Jika anda ingin mengikuti terus update dari Icon Los Angeles ini, anda bisa mengaksesnya melalui situs https://agenbola108.cc yang selalu memberikan informasi tentang Vela & klub Los Angeles FC ini.

California Sunshine L.A, KLub Sepak Bola Orange County Pertama

California Sunshine L.A, KLub Sepak Bola Orange County Pertama – California Sunshine adalah klub sepak bola Amerika yang bermarkas di Fountain Valley, California yang merupakan bagian dari American Soccer League. Tim tersebut dimiliki oleh Dr. Robert Everakes berserta istrinya Alexandra, Alexandra sendiri berperan sebagai manajer umum. Kandang atau tempat latihan mereka berada di stadion Universitas Chapman di Orange, California, dan Eddie West Field di Stadion Santa Ana (alias Santa Ana Bowl) di Santa Ana, California tetapi venue pertandingan eksibisi di lakukan di Universitas California di Riverside, California, atau Stadion Palm Springs di Palm Springs, California. Musim pertama klub ini memulai karir adalah tahun 1977, tetapi tim tersebut gulung tikar pada tahun 1981 setelah bermain empat musim. Pelatih kepala adalah Derek Lawther.

California Sunshine di masanya adalah satu-satunya klub olah raga berbasis di Orange County yang bermain di liga nasional, American Soccer League yang merupakan kasta tertinggi dari liga AS (1933-1983). Saat California Selatan menjadi sarang dari kegandrungan sepak bola, yang tengah booming di kalangan kaum muda pada akhir tahun 1970-an. Wilayah ini merupakan tambang emas yang menarik dieksploitasi oleh ASL dan NASL yang lebih ambisius dan lebih dianggarkan. Pada tahun 1978, NASL memiliki lima klub aktif di Orange County dan Los Angeles County.

The Sunshine di masanya termasuk klub yang sangat kuat di lapangan, pada 1978 dan 1979. Klub ini jadi pemuncak liga dengan 22 menang -3 seri – 3 kalah, tetapi tersingkir dari babak playoff dengan sangat mengecewakan. Mereka kandas di semifinal oleh sang juara Sacramento Gold. Klub ini lalu melatih beberapa pemain yang akan melanjutkan karir panjang dan sukses di sepak bola dalam ruangan [futsal] di tahun 1980-an, termasuk mengajak striker Inggris Andy Chapman dan pemain depan Amerika Joey Fink dan Poli Garcia. Garcia mencetak 15 gol untuk Sunshine pada tahun 1979 dan memenangkan penghargaan ASL’s Most Valuable Player.

Masalah Keuangan
Seperti kebanyakan klub ASL, kondisi keuangan Sunshine selalu melorot. Selama, musim pertama di musim panas 1977, Sunshine bergulir –lebih tepatnya jumpalitan berganti tiga Presiden, saat ada dua kali pergantian kepemilikan, hingga pemilik yang terakhir ikut jengah. Pada satu titik, pemain tidak dibayar selama enam minggu. Pada akhir musim panas itu, Dr. Robert Everakes muncul sebagai pemilik klub.

Dr. Everakes dan istrinya Alexandra akan ambil alih Sunshine sebagai dan dikenal sebagai ayah dan ibu klub selama sisa keberadaan tim. The Sunshine dikeluarkan dari liga selama beberapa jam pada tahun 1979 ketika Everakes tidak dapat berikan uang jaminan untuk membayar iuran tahunan liga. Setelah musim yang bagus di tahun 1979, tim lalu dibongkar kembali di awal musim 1980. Owner yang kekurangan uang memangkas pemain bergaji besar tapi berkinerja tinggi seperti Andy Chapman dan Alan Kelley dan memberlakukan pemotongan gaji 50% pada mereka yang tetap tinggal. Kepala Pelatih Derek Lawther juga akan mengundurkan diri karena masalah keuangan sebelum musim berakhir.

Setelah musim 1980, Golden Gate Gales dan Sacramento Gold gulung tikar, menyisakan hanya Sunshine sebagai satu-satunya klub American Soccer League yang masih berdiri di Pantai Barat. Everakes sendiri mengklaim mereka siap untuk bergerak maju. Tetapi pada Maret 1981 Komisaris ASL Mario Machado mengumumkan bahwa Sunshine bubar, mereka tenggelam di ufuk Timur.

Orange County Soccer Club, Klub Kecil L.A Yang Menggebrak USL

Orange County Soccer Club, Klub Kecil L.A Yang Menggebrak USL – Orange County Soccer Club merupakan klub sepak bola profesional satu-satunya di Orange County Los Angeles. Orange County SC [OCSC] kini menjadi bagian dari United Soccer League (USL), atau sering juga disebut Divisi II liga sepak bola profesional AS. Liga ini termasuk yang paling cepat berkembang di dunia, yang terdiri dari 34+ tim di seluruh Amerika Serikat.

Sementara tim ini akan merintis kebanggaan tersendiri bagi Orange County, juga publik Irvine pada umumnya, meskipun mereka masih klub sepak bola kecil yang bermarkas di Great Park Irvine yang selama beberapa beberapa waktu mencoba promosi menuju liga profesional terbesar MLS. OCS, memang berjalan tertatih-tatih dari rekam jejak pemain yang direkrut sampai pada fasilitasnya yang masih samar-samar sejak 2011, disebut demikian karena klub ini memang memiliki sarana yang terbatas, hanya stadion dengan kapasitas 5000 penonton. Akan tetapi aspirasi dan ambisi mereka sangat besar.

Klub ini pernah mencapai posisi impian dengan memenangkan puncak kejuaraan Wilayah Barat yang ketat pada musim kompetisi 2018 dengan rekor 20 menang 8 kalah 6 seri, yang membuat mereka memasuki playoff USL kali pertama, di mana mereka berhadapan dengan tim dari Phoenix, Sacramento, Cincinnati. Sayangnya mereka kalah dari Phoenix Rising 1-2 di Final Konferensi. Poin mereka pun lebih rendah dari FC Cincinnati yang akhirnya bisa melaju ke MLS.

Walau begitu, pencapaian itu jauh di luar dugaan, meski kebangkitan mereka semestinya dinilai wajar, jika kalau bukan karena Braeden Cloutier yang ada di posisi pelatih nya. Cloutier selama pra musim tahun 2017, mengumpulkan sekelompok pemain dalam selesksi yang ketat, beberapa di antaranya memiliki pengalaman luas di klub-klub besar di luar negeri dan di Major League Soccer. Pemain ini hanya kalah dua kali dalam 16 pertandingan sejak awal Juli, telah mencetak jauh lebih banyak gol (70) dari rival rivalnya di konferensiBarat, dan telah menunjukkan kemampuan untuk mencetak gol di saat-saat terakhir pertandingan.

OCSC terus berkembang. Tim juga telah bangkit dari ketinggalan enam kali, menang atau seri dan telah mencetak gol penentu dalam empat kemenangan – tiga gol sejak 22 Agustus 2018- dan satu kali imbang dalam 10 menit terakhir. Untuk menang merupakan bagian dari rencana ketika James Keston, seorang investor dengan latar belakang real estat, membeli klub itu dua tahun lalu.

Dia penggemar sepak bola seumur hidup, yang bersama ayahnya terlibat ketika MLS membentuk tim di Seattle dan Portland, dan dia telah menghabiskan lebih dari $ 5 juta biaya ekspansi di USL untuk mengambil alih kendali klub pada Agustus 2016. Keston mengubah citra klub, yang sebelumnya dikenal sebagai Los Angeles Blues dan kemudian Orange County Blues, membangun markas di Great Park, memperluas staffing klub, dan menciptakan kemitraan dengan beberapa klub sepak bola dan futsal amatir di Orange County dan San Diego.

“Ketika saya masuk, klub ini tidak ada branding sama sekali,” kata Keston. “Klub ini bahkan hanya punya tiga orang di kantor. Ini jelas bukan bisnis sepak bola professional.” Sekarang terdapat 30 orang staf, termasuk mantan wakil presiden penjualan pemasaran dan penjualan tiket Robert Alvarado dan mantan direktur penjualan dan pelayanan acara Orange County Fair, Mark Entner, dan klub ini berupaya meningkatkan pengaruhnya di Orange County.